swert modif Modif Yamaha Mio mantab

swert modif Modif Yamaha Mio mantab - terbaru sekali dari swert modif Modif Yamaha Mio mantab. Sangat handal sekali.

Yamaha Mio milik Zaky Tandjung ini, terlihat seperti Honda Zoomer. Tapi sejatinya, aliran modifikasi yang diterapkan menganut ke Ruckus Custom. Yaitu, salah satu rumah modif di California, Amerika Serikat.

Untuk membuat Mio ini tampil naked, tentu butuh ubahan rangka. Sehingga, meski tanpa aplikasi cover bodi pun tetap tampil eye cathing. “Rangka yang terpakai, hanya sebatas main frame hingga ke dudukan engine saja. Selebihnya, custom ulang,” bilang Donny Ariyanto dari Studio Motor Custom Bike di Jl. Veteran Raya, Bintaro, Jakarta Selatan (Depan RS Dr. Suyoto).

Frame dibuat ulang dari dua ukuran pipa seamless ukuran 1¼ inci dan ½ inci. Pipa terbesar, dipakai buat bagian sub frame karena berfungsi buat menopang tubuh pengendara. Sedang pipa berdiameter lebih kecil, dipasang sebagai pemanis di atas tangki bensin. "Semua ubahan frame ini, pakai sistem knock down. Jadi, bisa dilepas perbagian. Biar kental nuansa Ruckus,” sebut Donny. Ya, Ruckus sendiri menerapkan sistem ini. Mungkin, jika pemilik bosan dengan warna cat atau bentuk, masih bisa dimainkan lagi.

Cover bodi, bermain di depan. Bodi yang berbentuk kotak dari pelat galvanis 1 mm ini, juga sekalian sebagai tempat penyimpanan part. Misalnya; aki, CDI juga kiprok. Maka itu, meski tampil telanjang tapi tetap terlihat rapi. So, jangan heran jika sobat tak melihat kelistrikan yang tampil di luar.

Menemani ubahan naked yang dilakukan, pemakaian pelek dan roda lebar jadi acuan buat kaki-kaki. Pelek monoblock lebar 4 inci, dipasang di bagian depan. Sedang roda belakang, bermain di pelek tipe sama dengan lebar 7 inci.  (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan    : Swallow 140/60-14
Ban belakang : Swallow 160/60-14
Sok belakang: YSS
Lampu depan: Toyota Rush
Studio Motor: (021) 926-53870
readmore »»  

sweet Modif Yamaha Jupiter MX135 CW mantab

sweet Modif Yamaha Jupiter MX135 CW mantab - terbaru memuasknamenarik ajib azik dari sweet Modif Yamaha Jupiter MX135 CW mantab.

Beberapa waktu lalu pernah ditulis Yamaha Jupiter MX135 tahun 2010 pakai cover body burung hantu. Tapi, ketika dipasang tidak bisa langsung plek. Dan ternyata, cover bodi yang aslinya rancangan Lent Modified asal Jawa Timur ini memang salah peruntukan.  

“Alasanya, cover bodi burung hantu Lent Modified lebih pas buat generasi MX135 sebelum 2010. Kalau dipaksain dipasang di generasi 2010 ke atas, banyak yang dikorbankan,” beber Candra Tanujaya dari WW Motor, Palembang.

Kata Candra, cover bodi burung hantu buatan Lent Modified, meliputi tutup sayap kanan-kiri dan termasuk cover rangka tengah. Untuk pemasangannya di MX135 2010 ke atas, mesti bikin pegangan baru di ragkanya.

“Malah, tulang di bawah jok kudu sedikit dipotong ujungnya supaya buntut cover bisa masuk. Berbeda kalau dipasang di MX135 yang lama. Tinggal pasang,” ulas Candra yang berumur 30 tahun itu.

Jadi, karena ini kali Candra pasang di MX135 2008, enggak ada kesulitan. Tidak ada penambahan atau pengurangan braket. Artinya, bodi burung hantu tinggal plek pasang ke MX135 versi 2008.

“Tapi, ada kekurangannya sih. Rangka di bawah jok enggak bisa tertutup semuanya. Masih ada yang bisa kelihatan langsung,” tutup Candra.

Dan memang benar, masih ada yang sedikit terbuka setelah pakai cover bodi burung hantu itu. Bandingkan sendiri jika masih pakai baju asli MX135. Rangka di bawah tertutup rapat. Berarti belum pas dong bajunya? (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban: FDR 90/80-17
Knalpot: R9
Handel kopling: KTC
WW Motor: (0711) 7062064
readmore »»  

Modif Yamaha Jupiter-Z (Jogja) sport balap monim

Modif Yamaha Jupiter-Z (Jogja) sport balap monim - terbaru dair Modif Yamaha Jupiter-Z (Jogja) sport balap monim.

Sejatinya, Yamaha Jupiter-Z geberan Sigit PD ini bermain di kompresi 13,6 : 1. Itu kalau di trek permanen. Maklum, doi kan pembalap IndoPrix (IP). Tapi, karena bermain di sirkuit dadakan yang tidak terlalu panjang, kompresi diturunkan lagi. Itu akibat penggantian gir belakang yang dinaikan.

Jika biasanya pakai 14/ 42 mata, di sirkuit Stadion Kanjuruhan, Malang pakai 14/44 mata. Hasilnya, racer asal Jogja ini mampu podium utama di kelas 125 cc Grand Final Yamaha Cup Race 2011 beberapa waktu lalu.

Kompresi diturunkan hingga 13,2 : 1. Karena kalau tidak diturunkan, napas mesin terlalu cepat habis oleh gir yang lebih ringan,” ungkap Heru ‘Kate’ Hardiyanto, selaku tunner tim Yamaha TDR FDR Federal Oil NHK Yonk Jaya itu.

Penurunan kompresi ditempuh lewat pemapasan jenong alias dome piston Daytona diameter 55,25 mm yang diandalkan. Berkali-kali, piston dipapas dan diukur lewat alat ukur buret hingga dapat kompresi yang diinginkan.

Sayangnya, pria akrab disapa Pak’De ini tak terlalu mengukur berapa tinggi dome akhir. Tapi, kepala silinder juga ikut dipapas sekitar 0,4 mm. Hitungan ini, tetap dipakai meski ganti head silinder baru.

Selain kompresi, penyesuaian seting juga berimbas ke timing tertinggi pengapian. Untuk limiter diseting di 14.500 rpm. Lalu, timing pengapian yang biasanya dipatok 36º di 9.500 rpm, diturunkan jadi 36º di 8.500 rpm. Ya, turun 1.000 rpm.

Kalau gir ringan, napas mesin jadi cepat habis. Selain itu, penyesuaian juga karena sirkuit yang patah-patah. “Biar dropnya rpm juga tidak terlalu banyak. Jadi cepat mengail rpm lagi,” timpal alumnus fakultas Pertanian UPN Jojga 1990 itu.

Kondisi ini sesuai karakter balap Sigit yang sebenarnya suka gaya rolling speed. Jadi, meski trek patah-patah, tapi doi kadang masih suka gantung rpm dibeberapa tikungan. Bisa dikatakan juga kalau Sigit suka motor yang powernya lembut.

Untuk sistem pengapian sendiri, Pak’De lebih andalkan model rotor. Ya, pakai lempengan besi yang bobotnya dibuat jadi 550 gram. Untuk mengimbangi di sebelah kanan, balancer diterapkan hingga 400 gram.

Kompresi di ruang bakar, ditemani pemakaian klep milik Honda Sonic diameter 28 mm (in) dan 23 mm (ex). “Sengaja untuk ex dikecilkan. Sempat jajal klep 24 mm, tapi power masih kurang padat,” bilang pria ramah ini.

Durasi kem bermain di 272º. Itu berlaku buat klep in dan ex. Hitungannya, in 34º + 58º + 180º = 272º. Sedang ex, 58º + 34º + 180º = 272º. LSA (Lobe Separation Angle) bermain di 102º. Ini cocok untuk karakter power menengah-atas. Ya, buat bermain rolling speed.

Pangabut bahan bakar andalkan Keihin PWK 28 mm. Main-jet diseting 108 dan pilot-jet cukup besar. Yaitu, 60. “Karena power motor enteng-enteng, jadi butuh masukan sedikit besar di putaran bawahnya,” tutup Pak’De.

Belum lagi, saluran buang juga andalkan bikin tim sendiri. Ya, knalpot terbaru buat Jupiter-Z merek Yonk Jaya. Oh ya! karena sirkuit dadakan, Sigit lebih PD alias percaya diri untuk pakai stabilizer rangka di bagian underbone. Jadi, tak masalah dengan sasis yang seolah mantul-mantul ketika direm keras.  (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban : FDR 90/80-17
Sok belakang : YSS
Stabilizer setang : KTC
CDI: Rextor Pro Drag
Knalpot : Yonk Jaya
readmore »»  

Modif Yamaha Jupiter Z, 2010 (Jogja) sport go monim

Modif Yamaha Jupiter Z, 2010 (Jogja) sport go monim - terbaru sekali dari Modif Yamaha Jupiter Z, 2010 (Jogja) sport go monim.


Sebagai racer yang baru setahun naik kategori seeded, Fedri Effendi cukup gemilang. Itu dibuktikan lewat torehan posisi pertama di race I ajang Grand Final Yamaha Cup Race 2011 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur beberapa waktu lalu. Tentunya, di kelas 110 cc.

“Sebagai seeded baru, tapi bisa bersaing dengan pembalap-pembalap IndoPrix. Sayangnya di race ke-2, Fedri  terlibat accident dengan pembalap lain ketika main di kelas 125 cc. Kaki kiri terkilir, jadi tidak maksimal di race 2,” ujar Hasan Tandina, owner tim Yamaha IRM FDR TDR NHK TOP 1 tempat Fedri bernaung. Begitunya total poin tetap membawanya ke posisi empat.

Terlepas dari itu, karakter yang diberikan Yamaha Jupiter geberan Fedri cocok dengan karakter sirkuit dan gaya balapnya. Fedri senang dengan karakter buka-tutup. Maklum, selama ini doi bermain di ajang MotoPrix yang banyak tawarkan sirkuit dadakan. Jadi, lebih banyak stop and go. Bukan rolling speed macam trek permanen.

Sebagai tunner, Apri Wahyudi paham betul keinginan Fedri. Maka itu, sengaja seting kompresi di ruang bakar dibuat tinggi. Yap, sentuh perbandingan 14,3 : 1 dengan pasokan bahan bakar bensol biru.

Angka didapat dari permainan piston dan papasan kepala silinder. Penggebuk ruang bakar, pakai milik TDR diamater 52,25 mm. Diukur dari batas atas pin seher, dome piston bermain di 17 mm. Diameter dome pun dipatok di 40 mm.

Lalu, cylinder head hanya dipapas sekitar 0,5 mm. Squish dibuat 9º dengan bentuk kubah model semi bath tub. Ini cocok buat dongkrak kompresi. “Sengaja papasan head enggak terlalu banyak. Karena dome piston sudah tinggi. Takutnya malah ketinggian,” kata tunner 25 tahun ini.

Buat temani kompresi tinggi yang dipatoknya, Apri mengandalkan durasi kem 276º. Itu berlaku buat klep isap dan buang. Tapi, meski durasi sama, buka-tutup yang diterapkan berbeda.

Klep isap alias in, membuka 31º sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 65º setelah TMB (Titik Mati Bawah). Sedang klep buang, membuka 59º sebelum TMB dan menutup 37º sebelum TMB.

Toh, jika dilihat dari durasi buka-tutup kem, tentunya LSA (Lobe Separation Angle) yang diusung tiap bubungan juga berbeda. Buat klep in, LSA main di 107º. Sedang di klep ex, 101º.

"Tapi, waktu di Kanjuruhan, saya ubah sedikit buat yang ex. Membuka 57º sebelum TMB dan menutup 35º setelah  TMA. LSA tetap sama, 101º. Tujuannya biar power lebih cepat keluar lagi,” tambah tunner yang juga keponakan dari Sri ‘Ghandoel” Hartanto, salah satu tunner senior tanah air.

Yap! Terutama ketika Jupiter-Z ini diajak melibas tikungan ke-2 alias R2 yang punya bentuk layaknya huruf L. "Selepas tikungan rolling stopie, ketika dipaksa late braking juga enggak masalah. Power langsung keluar ketika gas dibuka lagi," ungkap Fedri menambahkan.

Nah, usai fokus bermain di putaran bawah, Apri mengaplikasi karburator Mikuni 'kotak' keluaran Sudco. Menurutnya, karbu ini cukup membantu buat napas di putaran atas. "Rpm atas enggak cepat drop. Apalagi, mesin minta seting agak basah. Spuyer main-jet 155 dan pilot-jet 35. Tapi, waktu sore, main-jet diturunkan jadi 150 karena sedikit mendung," tutup tunner yang punya workshop bernama Intan Raya Motor (IRM). Sukses! (motorplus-online.com) 

DATA MODIFIKASI
Ban : FDR 90/80-17
Disc brake : TDR
CDI : Rextor Pro Drag
Sok belakang : YSS
Knalpot : SND
readmore »»  

Modif Yamaha Scorpio, 2006 biru sweet mantab

Modif Yamaha Scorpio, 2006 biru sweet mantab - terbaru sekali dari Modif Yamaha Scorpio, 2006 biru sweet mantab.


"Tekstur bodi memang sederhana, masih belajar meramu dan memberi ciri bagian per bagian," buka Eko Bondus, builder dari Bondus Bike Modification (BBM), yang menggarap Yamaha Scorpio milik Ifan asal Jakarta. Dia tengah belajar memodifikasi dengan gaya West Jateng Style (WJS), aliran yang digemari di Purwokerto.

Eko terapkan teknik pangkas buntut. Rangka belakang dipotong 20 cm. Yang dipotong bagian atas. Sedang frame bawah ditekuk ke atas sesuai sisa potongan tadi. Walaupun buntutnya pendek namun masih bisa boncengan, sebab memakai konsep double sitter. Tantu saja sedikit repot buat boncenger karena joknya secuil.

Aplikasi ini nyambung dengan tangki model Honda CBR600RR yang berdimensi ramping. “Sengaja dibikin kecil agar buntut terlihat makin maju," analisis builder yang buka gerai di Jl. Kolonel Sugiono No. 24, Pondok Bambu, Jakarta Timur.

"Saya bikin desain serba padat. Contohnya deltabox yang menyatu dengan bodi tengah. Apalagi mesin Scorpio termasuk berdimensi besar di kelasnya, jadi terlihat lebih padat," cuapnya.

Eko mengaku dirinya murid Agus Djanuar, builder pelopor WJS. Tapi, detail belum sejago guru katanya.  (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan: Metzeller 120/60-17
Ban belakang: Michelin 190/55-17
Pelek: GSX 750
Setang: Hand made
Knalpot: Bondus Product
Lampu depan: Foglamp
Lampu belakang: Custom
BBM: 0815-9377-616
readmore »»  

Modif Yamaha Jupiter MX 135LC, 2007 street balap

Modif Yamaha Jupiter MX 135LC, 2007 street balap - terbaru sekali dari Modif Yamaha Jupiter MX 135LC, 2007 street balap.


Dulu MOTOR Plus pernah menyebarkan virus komorod. Artinya korban modifikasi road race. Ada yang masih ingat? Ternyata aliran ini masih hidup dan tetap berkembang di pulau Bali. Buktinya bisa dilihat pada Yamaha Jupiter MX milik I Made Riana ini. Layaknya motor balap, tapi hanya sekadar fashionnya saja.   

Bagi Brachunk, panggilan akrab Made, tampil seperti motor balap ini memang menjadi cita-citanya. Sebagai seorang mekanik di jaringan bengkel resmi Yamaha, oprek motor sudah jadi kesehariannya. Karena itu selain urusan bodi balap, mesin juga menjadi perhatiannya.

Saat ini, kapasitas mesin sudah tidak lagi 135 cc. Tapi, sudah menjadi 150 cc. "Karena sudah memasang blok berikut piston V-ixion. Sehingga otomatis jadi 150 cc," ujar lajang 23 tahun ini.

Tentu ini sah-sah saja, karena kembali ke konsep komorod tadi. Jadi, tidak dibawa turun di arena balap sesungguhnya, sehingga tidak ada batasan regulasi yang melarang peningkatan kapasitas mesin.

Berbagai variasi penunjang lainnya sudah pasti juga bergaya balap. Misalnya saja pelek yang menggunakan TDR. Bahkan buat ban, Brachuk menggunakan yang menjadi standar di arena IndoPrix (IP). IRC Razzo 221 ukuran 90/80-17.

Namun ada yang unik jika dilihat di roda belakang. Terlihat seolah-olah motor yang mempunyai nomor start 29 ini sudah menggunakan teromol variasi. Padahal ternyata masih orisinilnya.

"Bisa terlihat beda karena teromolnya dibubut. Hal itu karena sudah pakai disc brake di belakang, sehingga teromolnya dibubut supaya terlihat lebih ringan dan sporty," tutup warga Jl. Pecatu Graha No. 1, Kuta Selatan, Bali ini.  (motorplus-online.com)
readmore »»  

Modif Yamaha Jupiter-Z, 2006 drag sytree mantab

Modif Yamaha Jupiter-Z, 2006 drag sytree mantab - terbaru sekali dari Modif Yamaha Jupiter-Z, 2006 drag sytree mantab.


Eko Chodox mempu juara 3 di kelas 130 cc. Tepatnya pada Mizzle Super Drag Bike Competition yang dipentas dua minggu lalu di Sleman, Jogja. Yamaha Jupiter-Z yang digebernya mampu tembus 8,44 detik. Rahasianya menggunakan seher Daytona.

Piston buatan Daytona ini memang sedang naik daun. Bahkan paling duluan banyak dipakai di road race. “Untuk turun di kelas 130 cc, dipilih menggunakan diameter 55,25 mm,” buka Yusron sang mekanik.

Katanya termasuk jenis piston forged. Sehingga lebih ringan namun kuat. Apalagi badan seher cukup kecil. Sehingga bidang kontak dengan dinding liner jadi sedikit. Otomatis gesekan juga semakin kecil. Membuat power mesin tidak banyak terbuang.

Menurut Yusron, piston ini juga didukung material yang bagus. “Enggak ada yang keropos,” jelas Yusron yang malamnya balap di Tasik, besok di Sleman. Makanya catatan waktunya kurang bagus. Kecapean jokinya.

Padahal Jupiter ini pernah mencatat rekor 8,20 detik. Ketika balapan di Manahan, Solo. Hasilnya juara ke-1.

Kembali ngomong seher yang dibanderol Rp 250 ribuan itu. Harus diperhatikan ring seher bawaannya. Menurut Yusron kurang bagus. “Supaya maksimal dianjurkan gunakan ring merek Riken yang dibeli di pasaran” jelas mekanik yang bicara dengan logat Jowo ini.

Kepala seher juga harus diatur ulang. Supaya rasio kompresi 12,6 : 1 yang dimau bisa tercapai. Caranya dipapas sekalian dibuatkan coakan untuk tonjokan klep. “Supaya aman, pinggir seher dibuat mendem di blok silinder 0,6 mm,” jelas mekanik dari Jl. Raya Tajem No. 64, Sleman, Jogja itu.

Menggunakan klep isap 28 mm dan buang 24 mm diambil dari Honda Sonic. Panjang batang katup dari bos klep 32 mm. Supaya per klep Jepang ketika dipasang tidak terlalu keras. Tidak banyak mengurangi tenaga motor karena gesekan kem dan pelatuk.

Selain itu, rasio dan final gir disesuaikan. Lihat data modif!

Karbu Reamer

Untuk suplai gas bakar, Yusron pilih menggunakan karburator Keihin PE 28. Aslinya diameter venturi hanya 28 mm. Oleh Yusron pilih yang reameran 32,5 mm. Karakter karbu PE 28 memang bagus di rpm bawah. Tidak mudah ngok, sehingga enak untuk akselerasi.

Selain direamer, sudah pasti spuyer juga diatur ulang. Mengikuti cuaca dan kondisi sirkuit. Apalagi selain main siang, kadang main malam juga.

Sebelum pasang karbu besar, korekan di kepala silinder dimainkan. Squish dibuat 9 derajat. Untuk lubang isap dibuat 25,8 mm. Sementara lubang buangnya disamakan dengan diameter payung klepnya yang 24 mm. Pas dipadukan dengan knalpot R9. (motorplus-online.com)
readmore »»